Merawat Hantu

karlmarx

Waktu kecil, orang tua saya tidak pernah menakut-nakuti saya dengan hal-hal yang berbau hantu. Kendati rumah baru yang kami tinggali adalah daerah yang belum banyak penghuninya, rumah yang baru setengah jadi, belakang rumah yang berupa sawah, kebun-kebun rindang di sisi kanan dan kiri rumah. Dan di ujung desa adalah area pekuburan warga. Saya tidak pernah ditakuti-takuti oleh hal-hal berbau hantu meski orang tua saya kerap bercerita hal-hal tak masuk akal yang terjadi pada jaman dulu. Hal-hal yang juga mengenai hantu.

Belakangan, negara kembali memakai PKI dan juga Komunis sebagai momok yang menakutkan dengan cara terang-terangan. Memberangus buku dan mendukung pembubaran kegiatan-kegiatan yang dianggap serong kiri. Sebelumnya, jauh sebelumnya, label PKI atau Komunis selalu dipakai aparat untuk mereka yang menolak menjual tanah untuk proyek pembangunan bangunan bendungan di desa tergenang Jatigede, Sumedang. Dan juga di wilayah lain yang memiliki kasus yang sama. PKI dan Komunis begitu menakutkan.

Hal seperti ini tentu turun temurun diwariskan sejak rezim presiden ke-dua.

Saya sendiri, mulai mengenal komunisme sejak mula berkenalan dengan buku. Buku-buku pertama saya termasuk buku-buku yang tidak terlalu lazim untuk dibaca anak SMA waktu itu. Buku mengenai pesantren Al Zaitun di Indramayu, buku mengenai Osama Bin Laden, buku mengenai Anarki yang kesumuanya tak pernah saya beli.

Komunisme, seperti juga dikatakan oleh Imparsial sudah tak memiliki daya tarik apa-apa. Terlebih untuk di Indonesia jika ia dipandang sebagai ideologi politik perwakilan. Hari ini, yang percaya pemerintah dan negara hanya mereka yang memiliki kepentingan. Kekuasaan dan kekayaan. Komunisme sudah lagi semenarik dulu seiring runtuhnya soviet dan Poros Peking. Sehingga, mereka yang melakukan pembredelan terhadap buku-buku yang dianggap kiri terlebih meminta masyarakat yang memilikinya untuk menyerahkan buku tersebut adalah tindakan berlebihan, atau dalam kamus anak hari ini adalah ‘lebay’.

Saya percaya, bahwa tidak ada lagi individu bebas yang menganggap Komunisme adalah harapan masa depan. Menjadikannya sebagai tujuan politik dan menghayalkan bahwa negara yang ditinggalinya akan seperti Korea Utara yang tak memiliki Idol Group itu. Pemuda atau pemudi mana yang cukup bodoh untuk berpikir bahwa negara yang asyik itu adalah negara yang tak memiliki JKT48 sepaket dengan bening pahanya?

Jika seandainyapun mereka itu ada, orang-orang yang percaya bahwa Komunisme mampu menjadi pembeda nasib dibawah tiran negara. Dan seandanyipun lagi saya pada akhirnya harus percaya bahwa mereka itu ada, maka kesimpulan saya hanya satu, bahwa mereka itu terkurung dalam mimpi yang sama yang sedang diarungi oleh para pemberangus buku, pendukung pembubaran kegiatan yang menurutnya adalah kekirian. Mereka adalah dua kubu yang saling berhadapan yang sama terbius oleh khayalnya sendiri.

Jikapun Komunisme itu adalah sesuatu yang menakutkan, menyeramkan, harus dilawan dan memiliki sifat negatif lainnya, maka saya adalah orang pertama yang akan mengenalkan hal itu kepada anak saya agar seandainya hal tersebut harus dilawan, maka anak saya tahu apa yang sedang dilawannya.

Atau sebaliknya.

Selamat Hari Buku Nasional !

Pseudo Ruas jalan Kredo

Jika ada paras yang harus aku ingat, paras itu adalah paras lelaki berkulit cokelat gela dan bermata tajam. Hanya itu yang aku dapatkan, sebab selebihnya dia menutupi wajahnya dengan masker dan topi dengan pet berwarna putih. Lengan bajunya panjang hingga ke pergelangan tangan, sepatunya panjang hingga hampir menyentuh lutut. Sering lelaki itu aku dapati berdiri di tengah jalan, atau di pinggir jalan meski beberapa kali aku juga menemuinya sedang duduk tenang di pos perempatan jalan. Rokok menmepel di sela bibirnya. Setiap kali aku berkedara, dan harus berpapasan denganya, maka aku harus menepi, berbasa-basi, dan akhirnya harus benar-benar menepi ke pos perempatan jalan. Seperti pagi ini.

Aku memang salah mengambil keputusan, aku ambil jalan lurus, jalan yang kupikir akan lebih cepat mengantarkanku ke kantor. Aku harap tak ada macet. Ternyata macet, kendaraanku melambat pada jalan yang menikung, dia berada disana, lelaki itu. Dia melihatku, lalu memintaku menepi. Dia memperhatikan pelat seng yang menempel pada bagian depan motorku.

“Dua tahun ini belum dibayar pajaknya?!” Lelaki itu tak sedang bertanya. Dia sedang menghakimi.

“Iya, Pak. Ini saya belum ada uang untuk perpanjang pajak.”

“Terus kenapa kamu pakai? Mana SIM?”

“SIMnya belum ada, Pak.” Aku melempar pandang ke sembarang arah.

“STNK ada?” Aku merogoh saku celana, mengeluarkan dompet, lalu mengeluarkan yang dimintanya. “Nah, STNK sudah mati, SIM tidak ada. Jadi apa yang harus ditahan?” Aku tak mengeluarkan sepatah katapun. Dia memintaku mengarahkan motor ke pos yang biasa dia diami setiap hari.

Jalanan masih macet, aku pasti telat sampai kantor, staf personalia perusahaan pasti akan memiliki banyak sekali pertanyaan dan sanggahan yang harus kuhadapi. Jalan menuju kantorku masih jauh. Aku masih harus melewati kumuhnya pasar kecamatan yang dibiarkan tak teratur sejak aku bayi, melewati kantor kelurahan yang masih sepi pegawai dan ramai pedagang, melewati stasiun pengisian bahan bakar kendaraan, melewati sekolah, melewati tali kutang yang membayang pada kaus tipis perempuan pembawa belanjaan bersama suaminya, melewati persoalan yang tak kunjung henti.

“SIM tidak ada, pajak tidak dibayar. Jadi apa yang bisa saya tahan?” Dia mengeluakan buku dari dalam kantong yang ada pada sepatunya. “Saya kasih tahu, STNK tidak berfungsi lagi, tidak ada SIM. Jadi berapa dendanya.”

“Ya, mohon kebijaksanaannya, Pak. Motor ini saya pakai untuk kerja.”

“Ya, bagaimana? Mau diselesaikan di kantor saja? Motornya saya tahan.”

“Jangan ditahanlah, Pak. Ini kan saya harus jalan ke kantor?”

“Di mana kantornya?” Ini tentu bukan karena lelaki berkhaki dan bermata tajam itu peduli pada apa yang aku lakukan setiap hari.

“Saya kerja di timur, Pak. Di pabrik kertas.”

“Jadi sekarang bagaimana? Selesaikan di kantor saja, ya?”

“Minta tolong, Pak. Motornya saya pakai buat kerja.”

“Ini, saya kasih lihat denda yang paling kecil.” Dia membalik bukunya pada lembar pertama, memperlihatkan angka-angka. Jumlah rupiah.

“Pak, saya di dompet tidak ada …”

“Saya kan tidak bicarakn dompet kamu.” Dia menghentikan ucapanku. Aku diam.

Yang terjadi hari ini adalah sebuah pengulangan dari hal yang pernah terjadi sebelumnya. Selalu begitu. Lelaki itu, sudah lebih dari empat kali menangkapku. Aku memberinya seratus ribu rupiah, aku nyalakan lagi motorku. Lima puluh ribu, aku nyalakan motorku. Seratus lima puluh ribu, aku nyalakan motorku. Lagi, dan lagi, dan lagi. Dengan uang seperti itu, mereka bisa dibeli. Bayangkan jika aku memiliki uang lebih banyak, apa yang bisa kubeli. Pantai di utara Jakarta, gunung di Rembang, hutan Papua dan nyawa jutaan jelata.

Aku mengeluarkan selembar uang seratus ribu, melipatnya, lalu menyodorkannya kelelaki itu. Dia melihat kearah uang itu.

“Ya sudah. Ini coba kamu urus, bayar pajak, bikin SIM. Dicicil saja, SIM dulu, lalu bayar pajak. Kan gampang.” Dia menyerahkan dokumen milikku, dan seperti biasa, aku nyalakan lagi motor bututku.

***

Pekerjaan seperti yang aku tekuni hari ini tak pernah ada keterkaitan dengan jam kerja, semuanya berkaitan dengan hasil. Orang-orang yang bekerja sepertiku akan pulang hanya ketika sudah mendapatkan hasil yang terbaik. Jam kerja adalah basa-basi yang diributkan oleh orang-orang yang bekerja seperti mesin, sedangkan orang sepertiku memiliki kuasa penuh atas apa yang aku kerjaku.

“Ayah pulang!” Kedua anakku berebut keras menyambutku dengan suaranya ketika mereka mendengar suara sepeda motorku mendarat di teras rumah. Aku menangkap mereka, memeluknya. Di belakang mereka, istriku merekahkan senyum.

“Mau dibikinkan kopi, Yah?”

“Teh tawar saja, Bu.” Aku duduk di kursi rotan yang ada di teras rumah, menanggalkan lars.

Menjadi lelaki, bersekolah dan harus menjadi yang terbaik, mendapatkan pekerjaan impian, mendapatkan istri cantik, memiliki anak-anak yang bisa diandalkan. Kadang aku lelah. Dunia ini selalu berjalan dengan sistem yang deskriminatif, siapapun yang memiliki uang, maka dia yang akan menjadi pemegang kekuasaan. Industri dan pemerintahan berjalan seperti ini. Aku tahu karena aku berada di kedua hal tersebut. Industri jual beli kebijakan sebagai aparat pemerintah.

Istriku datang dengan segelas besar teh tawar. Belahan dadanya sengaja dibuat terlihat, aku tahu itu. Aku tahu semua gelagat istriku. Aku menyuruhnya agar menidurkan anak-anak.

“Anak-anak suruh tidur, sudah malam.” Dia tersenyum, senyum yang beda yang aku dapati siang tadi ketika aku lewatkan dengan Poppy. Atau dengan Risna hari sebelumnya, atau dengan Angel seminggu sebelumnya.

Malam yang tenang, kerinduan kepada masa kecil yang tak mempersoalkan apa-apa meski apa yang dibutuhkan sama persis dengan apa yang semua orang butuhkan. Anak-anak adalah makhluk yang abai, pribadi yang sangat yakin bahwa kebutuhannya akan terpenuhi. Ketakutan, jikapun dia datang, dia akan datang tidak sebab diri sendiri. Aku menghela nafas, membuang asap rokok.

Hari ini sudah tak ada lagi keluguan, sebab keluguan adalah penderitaan.

Istriku datang pada hisapan terakhir rokok ketiga.

“Anak-anak sudah tidur, Yah.” Dia tersenyum. Aku membalas senyumnya.

“Aku mandi dulu. Hari ini jangan pakai lingerie, pakai daster saja. Aku suka kamu apa adanya hari ini.” Aku bangkit, menuju kamar mandi, membersihkan kuman dan benci. Dan pornografi selalu memiliki caranya sendiri untuk memasuki kamar pengantin manapun.

***

Hari ini semua kota berubah menjadi New York, dan kita tak memiliki apapun untuk bisa memilih. Seolah-olah.

Bangun dong, Lupus !

Jadi, ini adalah naskah yang saya kirimkan kepada panitia sayembara menulis lupus bareng beberapa hari atau minggu yang lalu ketika informasi mengenai digagasnya ide untuk kembali menghidupkan ikon remaja idola. sesaat setelah saya mengetahui informasi sayembara, malam itu juga saya tulis cerita lupus dan mengirimkan naskah tersebut keesokan harinya setelah saya rubah formatnya dari words menjadi jpg.

Cf7j0b-VIAErGEB

Sore tadi, saya menerima telpon dari panitia yang mengabarkan bahwa tulisan saya lolos menjadi 100 karya terpilih, dan saya diminta untuk hadir besok ditempat dan waktu yang telah dijadwalkan. Sayang, dihari penjurian itu, saya akan sedang tidak berada di Bandung karena tugas kantor.

Tapi ya, sudah. Urusan kantor sedang benar-benar tak bisa diselingkuhi. Dan pada akhirnya, saya memilih untuk membagikan tulisan yang saya kirim di sini. selamat membaca.

 

Bangun dong, Lupus!

Senin pagi adalah waktu paling genting di rumah Lupus. Saat-saat seperti itu akan terasa seperti sudut runcing yang akan menentukan seperti apa siang hingga malam kehidupan Lupus dan Lulu. Adik Lupus. Sebab, setiap senin pagi akan selalu terulang perbincangan, atau intruksi Lulu seperti ini :

“Lupus! Bangun dong, cepet. Pliss lah, Pus. Cepet bangun. Jangan sampe Mamih konser tunggal. Ngga kuat gua klo harus denger Mamih konser tunggal.”

Biasanya, jika hal diatas pada akhirnya tak berhasil membangunkan Lupus, maka kejadian selanjutnya akan seperti ini :

“Lupus! Bangun! Kamu tuh kapan mau kaya gini terus?! Udah sering Mamih bilang jangan suka begadang klo tiada artinya! Begadang boleh saja klo ada perlunya! Cang Ma’mun udah kawin tiga kali! Haji Sobari udah nyaleg! Kamu mau kaya gini terus?! Bangun pagi aja harus Mamih bangunin!…”

Tiga titik selanjutnya itu adalah kalimat-kalimat tak putus dalam satu tarikan nafas Mamih yang tidak akan berhenti hingga terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, lalu tertutup, terdengar suara air mengalir, lalu pintunya terbuka lagi tanda Lupus sedah selesai mandi.

Tiga puluh menit sebelum lonceng sekolah berbentuk besi bekas pondasi berbunyi sebab dipukul mirip kentungan hansip malam oleh penjaga sekolah, adalah tepat dimana dua makhluk tak jelas asalnya akan muncul dipagar rumah Lupus. Yang satu berkulit hitam, berambut kriting dan bernasib selalu sial. Yang satunya lagi, berbadan besar seperti sepuluh galon air mineral ditumpuk jadi satu, selalu merasa bahwa dia hidup sejaman dengan angkatan pujangga baru. Boim dan Gusur. Mereka datang tepat diwaktu itu, waktu dimana biasanya Mamih menyiapkan sarapan untuk kedua anaknya.

Nasib sarapan mereka tergantung kepada yang manakah yang telah terjadi sebelumnya. Rayuan Lulu atau konser tunggal Mamih yang berhasil membangunkan Lupus. Sebab, jika yang pertama, maka sarapan mereka akan terselamatkan. Tapi jika yang kedua, maka sebelum kaki mereka melangkah melewati pagar rumah Lupus, maka Lupus yang akan lebih dulu menghampiri mereka, bahkan menabrak keduanya dengan cara berlari menghindari konser tunggal kedua Mamih.

“Lu klo senen bangun lebih pagi dong, Pus. Sarapan senen gua tergantung sama jadwal bangun pagi lu nih.”

“Iya, daku juga sama seperti dikau, Im. Engkong daku tak memungkinkan menyiapkan sarapan. Daku hanya berharap pada dikau, Pus.”

“Berisik ah lu berdua. Lu kan tau, hari minggu itu gua sibuk banget. Pagi, siang, sore ampe malem gua sibuk. Kadang sampe shubuh gua ngga tidur.”

“Ya lagi, lu sibuknya aneh. Pagi BBM Poppy, siang Whatsapp Poppy, sore stalkin Twitter Poppy, Malem BBM lagi. Nah habis itu, baru nyengir-nyengir sendiri.”

“Pus, dikau kapan sih akan menyatakan perasaan itu kepada Poppy? Jika tidak sekarang, Poppy bisa diambil orang lain, Pus.”

“Enak kaya gini sama Poppy. Temenan tapi saling kangen.” Angannya menerawang menembus langit pagi Jakarta, awan-awan putih tipis yang berarak, langit biru yang cerah dan . . .

“Lupus! Kamu mau tunggu Cang Ma’mun kawin ampe keempat kalinya? Ini masih pada ngapain sih disini, cepet sana pergi sekolah!”

-end-

Lumpen

Hidup menjadi semakin tak masuk akal. Sejak setiap inci langkah kaki adalah arah menuju kios-kios ritel pabrik, sejak setiap patriot industri mengendus hidupmu hingga ke meja makan, sejak televisi hanya berbicara tentang bagaimana hidup harus dijalani, sejak pemerintah berbicara tentang keadilan sosial dan kemakmuran nasional dalam bual bebal.

Setiap kali melangkah meninggalkan rumah, yang tersisa hanyalah kewajiban-kewajiban yang kian hari kehilangan maknanya. Semangatnya kabur bersama libido konsumsi yang meraksasa. Di setiap tikungan, minimarket-minimarket bersolek melebihi pelacur. Belum lagi, sehabis itu semua, tibalah ujung jalan bercerita mengenai supermarket yang payah berbenah diri agar tak terganjal lajunya. Hidup kini hanya tinggal menunggu seseorang datang membawakan label harga berupa chip yang siap dipasangkan pada tengkuk, setelah itu, tinggalah para korporat memilih mana yang akan dipergunakan.

Dan media hanya bisa batuk setiap saat. Berbohong mengenai anarki dan homogenitas. Televisi, sejak perkembangannya merupakan senjata terampuh bagi setiap penguasanya. Dengan dipegangnya industri ini, berarti hampir setengah dari hidup orang yang menyaksikannya menjadi dapat diatur. Ke kiri atau ke kanan. Produk melaju pada durasi yang menjijikkan dengan janji-janji absurd dan tipu yang manis untuk dikecap.

Sebetulnya, tak seorang pun yang tertarik dengan pembahasan tentang pemerintah. Tentang mereka yang mendandani dirinya secantik malaikat dan berperangai lucu seperti bayi. Para pemain akrobat ini berkubang pada dasar lumpur yang mereka sukai. Tak ada yang menyukai mereka selain golongan mereka sendiri. Dan tentara adalah anjing-anjing penjaga yang hanya mengerti satu isyarat. Angguk.

*

Aku kira kau tak akan berangkat, sebab tadi pagi kau memberitahu lewat telepon selulermu bahwa kau sakit. Tulang terasa nyeri akibat encok yang dihajar udara dingin malam tadi. Katamu, hingga tulang kakimu terasa linu. Entah dari mana kau mendapat kekuatan hingga akhirnya berangkat juga. Aku tahu itu dari kawanmu, Lastri.

Lastri bilang, juga melalui telepon seluler, bahwa dia mengkhawatirkan keadaanmu yang bermuka pucat dan tak enak dilihat jika berjalan. Gontai.

Aku cemburu.

Tapi mungkin dengan satu alasan itulah engkau pada akhirnya berangkat juga, padahal engkau mengiyakan ketika aku melarangmu untuk berangkat. Engkau takut. Apa yang kautakutkan? PHK!

Aku memang mengenalmu sebagai buruh pabrik dengan upah bulanan yang tak layak. Kerjamu berdiri lima jam, lalu kau boleh istirahat, makan di kantin pabrik yang makanannya tak menggugah selera. Tapi kau tetap harus makan di sana. Setelah satu jam yang membosankan bernama jam istirahat, kau melanjutkan kerjamu. Berdiri lagi di satu ruangan yang terang oleh lampu neon dengan cahaya yang tak wajar. Dua jam lagi baru kau bisa pulang. Kadang kau melakukannya dari pagi hingga sore hari, kadang siang hingga malam, kadang sedari malam dan kau baru akan pulang ketika para pedagang di pasar mulai menghitung laba-rugi serta datangnya jadwal tidur maling kelas teri.

Engkau sering mengeluh capek, tapi kau bertahan. Aku sering memintamu berhenti, dan sering kita usaikan pembahasan itu dengan bertengkar. Padahal kita hanya pacaran.

“Tulang pada linu semua, Mas. Semalam dingin sekali, encokku kambuh lagi. Mana demamku mulai meninggi. Panas rasanya tubuhku, Mas.” Aku baca lagi pesan pendek pada telepon selulerku. Darimu, kekasihku.

Aku melarangmu untuk pergi ke pabrik, engkau mengiyakan. Tapi Lastri mengirimiku pesan pendek. Katanya kau ada di pabrik. Ah, bandel kau.

Aku tanggalkan kembali seragam kerjaku. Rompi warna jeruk matang, tanda bahwa aku tukang jaga parkiran. Aku berangkat, menungguimu di gerbang pabrik, menontoni dinding-dinding pabrik yang dingin seperti memendam rahasia seribu abad. Diam, kaku dan tanpa kompromi.

Satu jam, dua jam, aku tak perduli. Aku akan menunggumu keluar dari gerbang pabrik bersama ratusan bahkan ribuan buruh pabrik lainnya. Mungkin hanya satu jam lagi, kau akan muncul dengan senyum manismu yang terkadang kecut dihantam panas dan debu. Tidak dari pabrik.

Pukul empat lewat sepuluh menit, gerbang pabrik terbuka lebar. Satu, dua, tiga, lima puluhan dan ratusan manusia dengan model dan warna baju yang sama keluar dari lubang senggama industri. Kau tak tampak.

Aku kirimi kau pesan pendek. Di mana?

Aku kirimi Lastri pesan pendek. Di mana?

Aku menemui wajahmu yang sepucat apa yang disampaikan Lastri, engkau ringkih dan seperti tak mampu lagi bekerja.

Tapi adikku perlu sekolah, katamu. Buat apa? kataku dalam hati.

Ibu perlu tambahan biaya biar bisa—paling tidak—makan dengan sedikit layak.

Engkau berjalan, seperti gontai mendekati aku dan motor bututku di seberang jalan. Di gerbang pabrik lain. Engkau tersenyum, dan aku menerjemahkannya dengan, “Mas, kita jalan-jalan dulu, yuk.” Dan aku akan tak setuju, sebab aku membawakanmu jaket, dan kita akan pergi ke klinik atau dokter atau hotel dengan bangsal-bangsal, lorong-lorong serta bau menyengat bahan kimia.

Engkau menyeberang, dan ketika hanya tinggal beberapa langkah engkau hanyut dalam pelukku … Brak!!! Engkau berantakan, terbang dan mendarat di hadapanku. Mobil berplat merah yang menabrakmu berlari sekuat tenaga dikejar beberapa motor karyawan pabrik. Temanmu. Aku termangu, engkau tak bergerak, tak bernafas, tak hidup.

Tak ada darah, yang hanya ada  sekrup, kabel, monitor, lampu …

bayi-bayi utopi

Kami kini datang dengan rasa cinta yang begitu agung, dalam heningnya rasa kasih yang mereka sembelih. Kami melaju dalam langkah yang berpadu dengan degup jantung, isak tangis yang belum pernah terdengar sebelumnya, menyakitkan

Kami mengitari sayap- sayap bumi yang yang kian menyedihkan, mengajarkan kesantunan bermimpi. Kami menembus setiap dinding budaya yang manghalangi. Kami masuk kedalam tulang sejarah yang akan kami ukir sendiri, hening…hening…dan tidurlah sahabat.
Perlahan kami masuki kepekatan yang mulai memperlihatkan wujudnya dalam kebeningan cahaya, kami masuki setiap gorong gorong yang tersisa. Kami terawangi setiap kekosongan hati, lantas kami lempari mereka dengan kayu yang tanpa kekuatan pun akan menembus kulit kebohongan, kami percaya. Pelan sekali kami berjalan di antara reruntuhan kemanusiaan, sesekali melihatnya dengan mata yang tak lagi sanggup memandang. Memahat hasrat ke atas pusara kemunafikan, lambat laun pusara akan berubah menjadi batu, tak lagi tertembus cahaya dari langit pengampunan.

Gerbang kami buka tanpa tenaga, tak terkunci karena tidak ada siapapun yang mampu menguncinya, melangkahkan kaki di bentangan tanah peradaban, kemudian menginggalkan kemurnian yang tercipta secara alami. Bila saja mereka ada di sini untuk melihat apa yang kami saksikan, jika saja mereka di sini menyaksikan kami menguliti ibu yang telah lama mendosa, jika saja kami tak pernah terlahir ke bumi untuk menikmati mimpi ini. Terus terang, tempat ini adalah realisasi dari setiap dokumentasi imajinasi yang hampir di bunuh mati, adalah sebuah lapang yang merebus kemampuan untuk memandang. Bangku-bangku telah di persiapkan, kami merasa tak ingin lagi pergi.

Apa yang harus kami katakan pada mereka agar mereka mampu menggambarkan kebeningan ini?. Di sini terpahat nama Tuhandengan jelasnya, di sini tertulis setiap tanggung jawab yang mereka tinggalkan untuk kesombongan. Setiap langkah yang mengantar kami ke dekat matahari begitu jelas terekam, setiap tarikan napas yang kami hembuskan adalah usaha yang tidak sia- sia.

Menapaki setiap anak tangga puri, mengingatkan kami bahwasannya kami pernah hidup bersama. Menjelajahi lorong- lorong absurditas berwarna perak mengkilap, kami tahu tanah inilah yang dimimpi setiap puisi. Menelusuri rahim keabadiaan dalam kesaksian tak terbantahkan, kami percaya pada tanah ini.

Pada setiap puri yang menjadi tempat kami berteduh terlukis wajah manusia tanpa luka. Pada setiap istana tempat kami berlindung terekam muka setiap senyum yang tak hanya dari manusia. Hanya saja pada setiap anak tangganya di lumuri oleh darah orang- orang yang di anggap menyeberang.

Kami pulang kepangkuan ibu kenyataan, dengan peluh yang tanpa henti tercucur dari tubuh kami, perih. Kami kembali ke bawah selimut mimpi kami masing- masing, dengan rasa lelah yang membuat kami tak lagi ingin melangkah, pedih.

Sahabat, bila nanti kau kembali tanpa dendam yang mendalam, datang dan tanyakan padaku tentang segala hal yang ingin aku ceritakan padamu. Sahabat, seandainya kau dan aku satu.

Alzheimer

Awalnya aku hanya melakukan eksperimen, semacam menantang diri untuk melakukan hal yang belum pernah aku lakukan. Menjadi orang lain dan menikmatinya. Aku hanya mencoba untuk menjadi seseorang yang sering lupa tentang apapun, aku mencoba untuk pura-pura tidak mengingat hal-hal kecil yang biasanya tak pernah aku lupakan. Tentang dimana aku menaruh pena yang biasanya ada di laci meja kerjaku, atau tentang dimana kunci mobil kantor yang biasa aku gunakan, juga tentang jam berapa aku harus tidur. Aku mencoba melupakan semuanya. Sebab, kadang apa yang kita ketahui tak membantu kita dalam banyak hal. Menjadi bodoh bisa jadi pilihan yang baik ketika hidup berjalana seperti ini. Kenyataan dan maya bertabrakan satu sama lain.

Upah kerjaku bulan kemarin, separuhnya aku bayarkan cicilan rumah yang masih lama jika harus menghitung lunas, separuh lain kuserahkan pada istriku untuk dihabiskan di supermarket dan mall, dibayarkan ke bagian keuangan sekolah anak kami, membayar listrik dan iuran lingkungan. Sisanya tetap berada di rekening bank. Aku tak ingat kapan terakhir aku membelanjakan uang hasil kerjaku untuk sebungkus rokok, atau sebatang. Aku tak ingat. Sejak itulah, aku mencoba untuk tidak mengingat apapun dalam keseharianku. Jika setiap hisap dan kepul gumpalan asap yang keluar dari suara gemeretak tembakau yang kuhisap saja bisa kulupakan, aku yakin melupakan hal lain bukanlah hal yang sulit.

Sebetulnya aku hanya ingin melupakan jalan menuju rumah hantu bertingkat tiga yang dihuni oleh puluhan zombie bernama kantor, aku hanya ingin melupakan lembar-lembar kontrak kerja yang menumpuk di meja kerjaku yang setiap hari menagih dendam dan berkata, “Kapan engkau menanam sehingga merasa berhak untuk membuat kami merasa tercerabut dari akar dana tanah.” Aku hanya ingin lupa dengan motivasi dan demotivasi kerja yang tertulis rapi pada setiap berkas proyeksi omzet dan promosi yang memenuhi folder dokumen dalam komputer terbaru yang disediakan oleh perusahaan. Aku hanya ingin melupakan berapa besaran uang yang ada pada rekening bank.

Semua, sepertinya harus berakhir pada hari senin pertama di bulan April. Hari dimana air rendaman buah lemon yang aku minum setiap pagi terasa seperti saliva dan perasaan papa semakin mendesak dalam dada. Mejijikan, aku merasa sendiri dan kesepian.

“Bun, handuk dimana? Aku mau mandi.” Aku tahu dimana letak handuk yang biasa aku pergunakan, dan aku tahu aku tak biasanya bangun tidur langsung mandi.

“Di tempat jemuran, Ayah. Di depan pintu kamar mandi. Biasa juga disitu.” Istriku melongokan kepalanya dari arah dapur. “Ayah ada rapat?”

“Enggak tahu, Bun.” Aku lalu bangkit menuju kamar mandi, menemukan istriku sedang memasak nasi goreng dengan bumbu instan pabrikan. Aku duduk dikursi plastik yang ada di teras belakang ruma, depan pintu kamar mandi. Aku bosan.

“Ayah, katanya mau mandi?”Iistriku menghampiriku, diam dihadapanku bertumpu pada kedua lututnya. Kedua tanganya menyilang pada kedua pahaku. Aku mencium bau badanya, dia belum mandi. Baju tidurnya belum juga di ganti, belahan payudarana terlihat. “Ayah ada rapat pagi ini? Sarapan Ayah dimasukan di kotak makanan saja ya? Ayah bawa ke kantor, kalau tidak ada rapat, bisa dimakan dikantor.” Aku hanya mengangguk. memperhatikan belahan payudara dan mencium bau tubuhnya. Aku berdiri, meraih handuk dan memasuki kamar mandi. Kami sudah lama tak bersebadan. Aku tak peduli, aku hanya ingin mandi.

Selepas mandi, aku berpakaian. Mengenakan kemeja yang sama dengan yang kupakai kemarin. Aku abaikan belasan kemeja lain yang tersusun rapi dalam lemari. Parfum aku semprotkan keseluruh bagian tubuh atasku. Memasukan kotak makan yang sudah disediakan kedalam tas ransel yang juga berisi kaus dan juga buku agenda. Tanpa pamitan aku nyalakan motor dan melaju mengendarainya. Telepon selulerku bergetar dalam saku celana. Pasti istriku, protes karena tak pamit. Aku tak peduli, aku tinggal bilang bahwa aku lupa.

Aku masih saja ingat jalan menuju kantorku. Perjalanan pagi yang membosankan sekaligus melelehkan. Menumpuk kedaraan bersama pekerja yang lain, memerhatikan paras perempuan yang baru saja pulang dari pasar dalam angkutan kota yang penuh asap kretek. Menderu knalpot motor dan mobil berlomba mengeluarkan asap sambil berdoa semoga bumi hijau berbunga.

Tampat kerjaku adalah gedung dengan gerbang setinggi tiga meter sebagai penanda bahwa ini merupakan area kami, sehingga tak ada seorang pun yang boleh memasukinya tanpa seijin kami. Sebab, tepat digerbang itu, ada juga pos keamaanan yang setiap saat paling tidak harus dihuni oleh dua orang dan kadang lebih. Tak ada satupun yang boleh melewati gerbang itu selain yang diperkenankan saja. Jika gerbang dan satuan pengamanan tak cukup untuk mengusir pengacau, maka polisi dan tentara akan segera menjadi angka.

“Selamat pagi, Pak. Tumben pagi betul.” Lelaki dengan uban mulai menumbuhi rambutnya itu membuakakan gerbang. Aku hanya memberinya senyum.

Aku bekerja dilantai dua, menjadi kepala penjualana area provinsi dan memiliki beberapa anak buah. Selain staf penjualan, lantai dua juga dihuni oleh tenaga adminstrasi dan bagian keuangan area provinsi.

Belakangan, setiap berada di ruang kerjaku, aku selalu merasa seperti alien  . Aku merasa sedang berada di planet berpenghuni semacam manusia yang tak kumengerti bahasanya. Padahal yang aku lakukan hanya memimpin rapat dengan menampilkan data-data penjualan bulan demi bulan yang tercatat pada tahun sebelumnya atau membuat rencana program penjualan yang menghabiskan waktu seharian bahkan tak bisa kutinggal untuk makan siang. Sesekali aku menemui staf keuangan, memperhatikan dada dan paha yang membayang pada blus tunik. Aku tak berani memegangnya, itu pelecehan.

Aku pernah melihat kutang anak sekolah yang mengintip dibalik kemeja seragam sekolahnya, terlihat diantara kancing kedua dan kancing ketiga. Aku pernah juga dalam hitungan sekian detik melihat kancut berwarna kuning gading atasanku ketika rapat mingguan rutin. Tapi, aku tak pernah melihat cinta. Aku lupa.

“Hai, Yuke.” Aku menarik kursi lain yang tidak terpakai, meletakan disamping Yuke dan mendudukinya. Perempuan dengan rambut sebahu itu kaget.

“Eh, ada apa sih?” Dia memperlebar jarak. Menarik dirinya.

“Aku mau bicara.” Dia masih dalam posisinya. “Disini. Sekarang.” Aku berikan penegasan.

“Iya, apa?” Dia masih terlihat kaget.

“Aku bilang ke kamu, mengatakan ini butuh lebih dari sekedar keberanian. Sebab, yang akan aku katakan adalah risiko. Tapi, akan aku katakan juga. Sebab, aku tahu aku harus mengatakannya.” Dia mengerutkan dahinya, masih tak mengerti. Aku mencium aroma ketakutan pada gelagatnya. “Sejak tiga tahun lalu, waktu kamu pertama kali kerja disini jadi staf keuangan dan kerja satu lantai sama aku. Aku sudah tertarik sama kamu. Rambut kamu yang sebahu, lincah gerak dan cara bicaramu. Semuanya. Aku bahkan suka caramu mengunyah makanan. Aku tahu jumlah kancing kemeja yang kamu pakai sekaran tanpa perlu menghitung ulang. Aku juga tahu kamu akan selalu menaruh tisu disamping kiri tanganmu setiap kali makan, setiap suapan kamu ikutin dengan sekaan pada mulutmu. Aku tahu berapa banyak sepatu yang pernah kamu pakai ke kantor dalam tiga tahun ini. Aku suka cara jalanmu.” Matanya mulai berkaca-kaca. Dia memperhatikan sekitar, seolah tak ingin ada orang lain yang mendengar. “Istriku dan suamimu tak perlu mengetahui ini semua, ini bukan tentang mereka. ini tentang kita berdua. Sejak aku mengenalmu.” Aku berhenti. Memperhatikan raut wajahnya, air mukanya dan gerak tubuhnya. Dia berdiri, berlari sambil menangis menuju toilet. Aku bangkit, karyawan lain memperhatikanku. Kau membalas tatapan mereka yang seolah bertanya. Aku hanya menaik-turunkan bahu sebagai pertanda tak tahu. Aku tahu dan tidak lupa sebab aku tak sedang jatuh cinta.

Aku melangkah, menuruni anak tangga dan menanggalkan dasi yang melingkar. Mataku sedikit kunang-kunang, tapi aku masih mampu berjalan dan menjaga kesadaranku. Orang-orang dilantai satu abai pada suara sepatuku yang beradu dengan lantai. Aku meninggalkan kantor, berjalan keluar gerbang tanpa tersenyum pada penjaga pos. Aku berjalan terus sampai aku tak bisa merasakan kakiku.

Jatuh cinta dan berjalan memiliki kecenderungan yang sama, pada akhirnya tak akan kita rasa apa yang kita rasa ketika diawal. Aku mencoba mengingat indah masa kecilku bersama lusinan kaset video game dan program wisata desa seharga seratus porsi nasi goreng ujung kompleks perumahanku hari ini. Aku mencoba mengingat rasa daging bibir pertama yang aku cium, didepan kaca cermin. Aku mencoba mengingat apapun yang aku pernah sukai termasuk bau cengkih yang menyeruak diantara tembakau pada sebatang rokok.

Aku rasa aku sudah berjalan terlalu jauh sehingga aku lupa dari mana asalku dan akan kemana tujuanku. Pintu rumah aku buka dengan kunci yang selalu aku bawa. Istriku mungkin sedang berada di sekolah anak kami, menungguinya hingga waktu pulang tiba. Aku jatuhkan tubuhku diatas kasur dikamar. Aku biarkan semua yang aku ingat menghilang dalam tidur yang entah kapan akan berakhir.

Diatas Kaki Sendiri

Sedari tadi sore hujan terus saja membasahi seisi Kahuripan, membuat basah dan tanah, serta membawa kemalasan pada manusia untuk meninggalkan rumah. Menjelang tenggelam dalam kegelapan malam, Kahuripan benar- benar terasa amat sepi, hanya binatang saja yang coba berani mengeluarkan suara karena memang telah menjadi tugasnya. Rumah-rumah kawula yang beratapkan jerami mulai gelap tak berpenerangan. Meski begitu, beberapa diantaranya masih hanyut dalam percakapan baik itu dengan keluarga atau pun dengan sesamanya. Keadaan Kahuripan yang tenang di bawah Majapahit memang memungkinkan mereka untuk sekedar berkumpul. Telah lama Majapahit terlepas dari ancaman pemberontakkan, terlebih setelah Majapahit memilih Gajah Mada.

Hujan gerimis yang belum juga reda ternyata membuat perbincangan di salah satu rumah kawula semakin membuat rumah itu lupa akan waktu yang terus bergerak.

“Bagaimana ini, nyai…?”

“Apanya yang bagaimana?” pertanyaan suaminya yang tengah ada dalam kegelisahan itu ia jawab dengan pertanyaan pula.

“Nyai kan telah dengar tentang sumpah yang diucap Yang Mulia Maha Patih Gajah Mada di Majapahit. Sekarang bagaimana bila aku diminta untuk ikut memenuhi kebutuhan Majapahit akan prajurit ?…”

“Apa nyai rela aku mati di ujung keris atau tombak?” Perempuan yang telah menjadi istrinya sejak setahun belakangan ini masih saja diam menghadapi kata-katanya. Berpikir barangkali. Berkhayal barangkali.

“Bagaimana nyai? Nyai rela aku mati di tangan orang yang tak memiliki perkara denganku?”

Nyai Salira masih saja membisu di hadapan suaminya yang sedang memandangi perutnya yang tengah hamil muda. Herang, suami Nyai Salira itu terus saja berharap istrinya mengerti akan kebosanannya akan peperangan. Herang dan Nyai Salira bertemu sekitar empat tahun lalu, saat itu Herang adalah seorang petugas tapal batas Sadeng yang mengetahui akan rencana laskar Majapahit yang bermaksud menaklukan Sadeng. Begitu ia tahu laskar Majapahit yang dipimpin Ra Kembar berkubu di sekitar sungai Badadung, ia menyuruh rekannya untuk segera melaporkan hal itu ke kerajaan, sementara ia pergi meninggalkan wilayah Sadeng beserta perlengkapan keprajuritannya. Entah kemana. Setelah lama tak sadarkan diri karena jauhnya berjalan, akhirnya ia terbangun di sebuah rumah kawula Kahuripan, yang juga daerah di bawah kekuasaan Majapahit. Keluarga Ki Samudra, orang tua Nyi Salira menerimanya untuk tetap tinggal bersama mereka karena kesanggupannya untuk membantu keluarga itu bertani.

“Bukankah menjadi prajurit itu sesuatu hal yang akan menjadi kebanggan bagi kakang? Apalagi kakang akan pergi jauh untuk melihat negeri- negeri seberang.”

“Itulah nyai, tak ada sedikitpun dalam diriku yang merestui aku untuk pergi jauh, terlebih saat ini nyai tengah hamil anak pertama kita.”

“Bukankah kepergian kakang nanti agar tercapainya kesatuan segenap wilayah Nusantara di bawah pimpinan Majapahit?”

“Untuk apa Majaphit mesti bersusah payah menyatukan Nusantara? Untuk apa persatuan harus dipaksakan dengan ujung tombak? Apakah nyai tidak berprasangka bahwa ini hanyala sebuah siasat untuk menggapai keinginan akan kekuasaan?” matanya terus saja memandangi perut istrinya yang mulai membesar karena kehamilan, lalu ia langkahkan kakinya mendekat pada istrinya, lantas perut istrinya itu ia pegang.

“Kakang risaukan bayi kita?”

“Terlebih nyai sebagai istriku”

“Lantas apa yang akan kita lakukan untuk menghadapi segala kemungkinan di depan”

Sesaat Herang menatap lekang ke arah mata istrinya, tangan istrinya ia tuntun untuk membelai kepalanya. Ia rekatkan telinganya ke perut istrinya yang sedang hamil, lalu menatap mata istrinya lagi penuh tujuan.

“Nyai percaya padaku?”

“Aku istrimu, kakang. Kenapa tanyakan hal itu?”

“Nyai mau menghabiskan sisa hidup nyai denganku?”

“Kakang adalah segalanya bagiku, dengan kakang bersamaku, aku sanggup lalui apapun.”

“Nyai mau apabila aku minta nyai menyertai aku pergi dari Kahuripan? Pergi dari kawasan Majapahit?”

“Lantas kemana kakang akan membawa aku pergi?”

“Kemanapun, asalkan tempat yang lebih nyaman dan aman, serta memberikan kita kesempatan untuk melalui hidup dengan bahagia dan damai.”

“Kakang tidak takut mendapatkan gelar pengecut karena telah lari dari tugas agung untuk menyatukan Nusantara?”

“Aku lebih takut apabila aku harus meninggalkan istriku sendiri, aku lebih takut apabila bayiku lahir tak melihat bapaknya, dan memang aku tak sudi mati di ujung pedang orang yang tak memiliki perkara denganku.”

Malam telah larut, hujan tak jua kunjung reda penerangan di rumah Herang pun telah di padamkan.

Pagi sekali desa itu telah ramai oleh kabar mengejutkan, sebuah rumah hangus terbakar, semua bangunan rumah habis oleh api kecuali jerami atap rumahnya yang memang basah oleh air hujan semalam. Seluruh penghuni percaya bahwa si pemilik rumah telah ikut hangus terbakar bersama segala isi rumah itu.